Jumat, 12 Maret 2010

Info IGPExco : Segmen GRATIS ber-SKP

Info IGPExco : Segmen GRATIS ber-SKP

Sebagaimana telah diketahui para sejawat Dokter Umum sekalian, bahwa PDUI akan menggelar kegiatan Indonesia General Practitioners Exhibition & Conference 2010, bertema : Future Role of General Practitioners in Indonesia. Kegiatan diisi dengan symposium, wahana (workshop), plenary dan pameran perkembangan ilmu kedokteran terkini.

Kegiatan ilmiah yang dihelat dalam bentuk symposium, wahana dan plenary tengah dalam proses akreditasi oleh BP2KB IDI. Sehingga, kegiatan IGPExco ini dapat memenuhi kebutuhan akan pemenuhan perolehan SKP (satuan kredit profesi) yang dipatok sebanyak 250 poin untuk masa lima tahun, sebagai syarat re-registrasi STR.

Sebagai wujud komitmen Pengurus Pusat PDUI dalam memberikan fasilitasi kepada anggota untuk mendapatkan SKP secara GRATIS, maka diberikan kesempatan kepada sejawat Dokter Umum untuk mengikuti segmen Plenary secara GRATIS. Jumlah SKP sesuai akreditasi oleh BP2KB. Adapun untuk segmen Simposium dan Wahana (wokshop), tetap diberlakukan ketentuan sebagaimana mestinya.

Untuk mendapatkannya, diperSYARATkan adalah anggota PDUI. Bagi yang belum terdaftar, silakan mengisi formulir isian online di situs : www.pdui.org . Silakan klik pada menu “keanggotaan”, sehingga akan didapatkan petunjuk pengisian formulir dimaksud. Bila prosedur pendaftaran sudah benar, maka akan diperoleh email balasan berupa Konfirmasi Keanggotaan. Cetaklah konfirmasi tersebut sebagai bukti telah terdaftar sebagai anggota PDUI.

Untuk mendaftar, lakukan pendaftaran melalui SMS-Net dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Ketik via SMS : REG PDUIEVENT 01 dan kirim ke 2425

2. Selanjutnya akan mendapatkan dua (2) SMS balasan :

a. PDUI: [1/2] Slmt brgbung di Event Musyawarah Nasional Dokter Umum Indonesia. Tarif 1300/sms. Utk STOP krm UNREG PDUI 01 ke 2425. CS: 021- 70232425.

b. [2/2] Kirimkan data Anda, format: PDUIEVENT NO.KEGIATAN#NAMA#KOTA. Contoh: PDUIEVENT 01#Ade Wahyu#Jakarta

3. Ketik via SMS sesuai petunjuk 2.b. dengan contoh :

PDUIEVENT 01#Dr.Tantiyo Setiyowati# Depok dan kirim ke 2425.

4. Selanjutnya akan mendapatkan kembali SMS balasan :

Terima kasih. Data Anda telah tersimpan. No.Reg Anda 0001. Silahkan lakukan daftar ulang di meja registrasi yang tersedia dengan menunjukkan SMS ini.

Silakan manfaatkan fasilitas dan kesempatan ini. Perhatian : Kuota Terbatas.

Pemeriksaan Kesehatan Pilkada Provinsi Kalimantan Tengah

IDI Wilayah Kalimantan Tengah baru-baru ini telah menyelenggarakan pemeriksaan kemampuan jasmani dan rohani bagi para Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, bertempat di RSUD dr. Doris Sylvanus.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut perjanjian kerja sama antara KPU Provinsi Kalimantan Tengah, IDI Wilayah Kalimantan Tengah dan RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.

Para pasangan calon kepala daerah dan calon kepala daerah terdiri dari 8 pasang dan menjalani pemeriksaan mulai tanggal 8 – 9 Maret 2010. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi interna, jantung, saraf, THT, Mata, Bedah, laboratorium, radiologi serta psikiatri.

Senin, 21 Desember 2009

P2KB Online

P2KB adalah program yang diamanahkan UUPK kepada IDI yang bertujuan menjaga mutu
pelayanan Dokter Indonesia dengan tetap mempertahankan Kompetensinya
masing-masing. Dalam program ini seluruh kegiatan Dokter dapat dikonversi
menjadi nilai SKP yang wajib di catat dalam Log Book P2KB. Terdapat 3 kelompok
kegiatan yaitu :
1. Pribadi : kegiatan pembelajaran mandiri yang dilakukan sebagai kapasitas
pribadi.Contoh : membaca jurnal terakreditasi, menulis/menterjemahkan buku,
melakukan uji diri.
2. Internal : seluruh kegiatan yang dilakukan sebagai kapasitas sebagai seorang
Dokter baik mandiri maupun sebagai bagian dari Institusi pelayanan atau
Organisasi Profesi.Contoh : ronde bangsal, merawat pasien, penyuluhan pasien,
menjadi pengurus organisasi profesi, melakukan tindakan diagnostik.
3. Eksternal : seluruh kegiatan yang dilakukan di luar kegiatan pribadi &
internal.Contoh : mengikuti simposium, pelatihan, seminar.

Di awal tahun 2007 Program Pencatatan kegiatan P2KB IDI berjalan dengan sistem
Offline, dimana mekanisme yang dilalui sbb :
1. Untuk mendaftar program ini, dokter harus mendaftar langsung ke IDI cabang
atau IDI wilayah.
2. Untuk kegiatannya anggota harus mengisi dalam tabel Buku Log yang bisa
didapatkan ketika mendaftar.
3. Setiap bulan anggota harus memasukkan buku lognya ke IDI cabang/wilayah yang
nantinya akan diverifikasi. Jika di IDI cabang belum ada tim P2KB maka
verifikasi dilakukan di IDI wilayah oleh tim verifikator yang ditunjuk oleh
BP2KB wilayah. Namun bagi cabang yang telah memiliki Tim P2KB maka verifikasi
awal dilakukan di IDI cabang, setelah selesai diverifikasi cabang, hasil
verifikasi diteruskan ke BP2KB wilayah untuk verifikasi akhir. Setelah itu
diteruskan ke Bp2KB Pusat untuk kemudian dikeluarkan rekomendasi ke Kolegium
untuk selanjutnya diterbitkan Sertifikat Kompetensi jika telah mencapai target
250 skp/5 tahun.
Masalah : Bertumpuknya berkas yang harus diverifikasi di cabang & wilayah.

Sejak JUli 2008, program pencatatan kegiatan dijalankan dengan sistem Online
yaitu berbasis web yang diakses melalui Internet. Dimana mekanisme yang dilalui
sbb :
1. Pendaftaran dapat langsung dilakukan oleh anggota melalui website.
2. pengisian Log Book dilakukan secara online , dimana dimintakan untuk
menyertakan dokumen bukti dalam bentuk scanned copy atau foto.
3. verifikasi dilakukan langsung oleh verifikator cabang/wilayah melalui
website.
4. Jika telah sampai target 250 skp, BP2KB pusat meneruskan data ke Kolegium
untuk diterbitkan sertifikat kompetensi.
MASALAH : akses & pemahaman akan internet yang terbatas.

Semenjak program online dijalankan, BP2KB pusat menyarankan kepada seluruh IDI
wilayah & cabang untuk menjalankan program pencatatan kegiatan P2KB secara
online dikarenakan pertimbangan effisiensi, dan ditambahkan juga bahwa pada
tahun 2011 proses regsitrasi Ulang di KKI akan dilakukan secara Online dan KKI
memerlukan data sertifikat kompetensi berupa data online yang terdapat di server
IDI.

Untuk mengikuti program ini, anggota IDI diwajibkan membayar iuran sebesar 250
ribu selama 5 tahun, namun tidak diwajibkan di awal mengikuti program. Dapat
dilakukan setelah mengikuti program selama 2 bulan. Iuran ini untuk
memaintenance program serta sebagai biaya operasional IDI dari tingkat cabang
sampai pusat. Untuk pelaksanaan program pencatatan Online, PB IDI mengalokasikan
dari iuran yang terkumpul untuk pembelian software(aplikasi)& Hardware
(server,dll).

Untuk info lebih lanjut dapat berkomukasi langsung dengan pengurus IDI cabang
masing-masing.

Sosialisasi P2KB Online di Kuala Pambuang


K. Pambuang, 19 Desember 2009
Telah dilakukan sosialisasi P2KB Online oleh dr. Herry Tjahjono, DESS bertempat di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan pada hari Sabtu, 19 Desember 2009.
Kegiatan dihadiri oleh 8 orang dokter. Dari kegiatan tersebut para peserta telah dapat melakukan registrasi secara online ke situs P2KB online. Pada kegiatan tersebut juga dibagikan 9 buku CPD dari BP2KB IDI Wilayah Kalimantan Tengah. Diharapkan pengetahuan tersebut dapat ditularkan kepada para dokter lainnya di kabupaten tersebut yang tidak berkesempatan hadir karena tempat tugas yang jauh di daerah terpencil.



Kamis, 29 Oktober 2009

Bakal Calon Ketua Umum Terpilih PB IDI

Daftar Nama Bakal Calon
Ketua Umum Terpilih (President Elect) PB IDI
Masa Bakti 2009-2012

1.DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes
Jabatan sekarang : Ketua Umum PB IDI
Pengusul : IDI Wilayah Jawa Tengah, IDI Cabang Medan
2.Dr. Zaenal Abidin, MH.Kes
Jabatan sekarang : Sekretaris Jenderal PB IDI
Pengusul : IDI Wilayah Jawa Tengah, IDI Wilayah Sulawesi Selatan, IDI Cabang Medan
3.Dr. Wawang S. Sukarya, Sp.OG(K)., MARS., MH.Kes
Jabatan sekarang : Ketua IDI Wilayah Jawa Barat
Pengusul : IDI Wilayah Jawa Barat, IDI Cabang Kota Bandung
4.DR.dr. Tri Wahyu Murni, Sp.BB., Sp.BTKV(K)., MH.Kes
Jabatan sekarang : IDI Cabang Kota Bandung
Pengusul : IDI Cabang Kota Bandung
5.Dr. Ahmad Budi Arto, MM
Jabatan sekarang : Ketua IDI Wilayah DKI Jakarta
Pengusul : IDI Wilayah DKI Jakarta
6.Dr. Eddi Junaidi, Sp.OG, M.Kes
Jabatan sekarang : Ketua IDI Cabang Jakarta Timur
Pengusul : IDI Wilayah DKI Jakarta
7.Prof. DR. Dr. Eddy Rahardjo, Sp.Ank.IC
Jabatan sekarang : Ketua MKEK IDI Wilayah Jawa Timur
Pengusul : IDI Wilayah Jawa Timur
8.Dr. Djoko Widyarto JS, DHM, MH.Kes
Jabatan sekarang : Wakil Ketua I IDI Wilayah Jawa Tengah / Anggota BHP2A Pusat
Pengusul : IDI Wilayah Jawa Tengah
9.Dr. Rustam Effendi YS, Sp.PD
Jabatan sekarang : Ketua MPPK IDI Wilayah Sumatera Utara
Pengusul : IDI Cabang Padangsidempuan
10.Dr. Abidinsyah Siregar, DHSM., M.Kes
Jabatan sekarang : Ketua Bidang Penataan Sistem Rujukan Praktik Kedokteran PB IDI
Pengusul : IDI Cabang Medan
11.Dr. Abraham Andi Oadlan Patarai, M.Kes
Jabatan sekarang : Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Tingkat Wilayah dan Cabang
Pengusul : IDI Cabang Medan
12.Dr. Zuweni Harahap, Sp.B
Jabatan sekarang : Ketua IDI Wilayah Jambi
Pengusul : IDI Wilayah Jambi

Minggu, 18 Oktober 2009

USUS MALAS / USUS PARALITIK / KEMBUNG TERUS MENERUS

Setelah menjalani operasi besar pada rongga perut misalnya operasi laparatomi eksplorasi (operasi dengan sayatan tengah perut ) kadang-kadang disertai dengan komplikasi terjadinya usus yang malas bekerja. Usus malas ditandai dengan adanya kembung, belum flatus / buang angin, mual dan muntah dan belum bisa BAB (buang air besar) untuk waktu yang relatif lama. Pada keadaan ini dokter akan memasang selang lewat hidung untuk membantu dekompresi / pengosongan isi usus . Pasien diharuskan puasa sehingga kebutuhan nutrisi didapat dari cairan infus.
Pada keadaan yang sudah jauh lebih baik, pasien dapat diperbolehkan minum sedikit-sedikit atau hanya basah-basah bibir atau isap-isap permen. Sambil dievaluasi dengan melihat hasil produksi pada selang hidung, pasien dapat mulai melakukan mobilisasi bertahap, mika miki (miring kanan miring kiri), duduk bersandar, duduk tanpa bersandar, berdiri dan jalan.
Jika dilakukan foto ronsen abdomen 3 posisi, kadang-kadang tampak seperti ada sesuatu yang menyumbat usus, dimana udara tidak mencapai daerah bawah. Meskipun demikian jika dokter tidak menemukan gambaran atau gerakan usus yang khas terlihat pada kasus dimana terjadi sumbatan yang memerlukan operasi segera, maka pengobatan pada pasien tersebut selain obat-obatan inti adalah puasa, puasa dan puasa. Foto ronsen abdomen 3 posisi biasanya akan diulang lagi untuk evaluasi.
Pada pasien atau keluarga pasien yang kurang mengerti tentang penyakit yang ia derita, seringkali merasa khawatir, cemas karena harus tinggal lama di RS tanpa diperbolehkan makan dan minum disertai dengan kembung plus tanpa BAB dalam waktu lama. Pada kasus ini dibutuhkan kesabaran, ketaatan pasien untuk menerima instruksi dari perawat dan Dokter. Keluarga tentu saja memberikan semangat.
Saran pada pasien dan keluarga pasien yang mengalami usus malas / usus paralitik setelah operasi
  1. Pada saat dilakukan pemasangan NGT / selang melalui hidung, sering menimbulkan rasa tidak nyaman, dihadapi saja – tabah.
  2. Sering harus dilakukan pemasangan kateter uretra (selang untuk BAK – buang air kecil) untuk menilai kecukupan cairan yang dimasukkan tubuh, alat ini juga sering menimbulkan rasa tidak nyaman.
  3. Setiap hari harus mendisiplinkan diri untuk melakukan mobilisasi, mobilisasi jangan menunggu kalau perawat atau dokter datang. Tiap 8 jam belajar untuk miring kanan, jika belum sempurna miring / full miring maka punggung bisa diganjal dengan guling terlebih dahulu, kemudian 8 jam lagi miring kiri demikian seterusnya. Jika rasa sakit pada luka operasi sudah tak tertahan, mintakan obat penghilang rasa sakit pada perawat. Rasa sakit pada bekas luka operasi jangan menghalangi untuk melakukan mobilisasi. Hal ini lakukan terus menerus, tiap hari harus ada semangat untuk melakukan mobilisasi, tetapkan target untuk bisa duduk, berdiri dan jalan. Yang penting jangan lupa untuk terus semangat !
  4. Tetap bersabar jika melihat segelas teh manis hangat yang tersaji untuk keluarga yang menunggu, jangan tergoda untuk diminum begitu pula kalau melihat makanan atau buah di depan mata yang dibawa oleh pengunjung yang besuk. Jika tiba saatnya maka usus akan dapat bekerja lagi. Berikan dukungan moril pada pasien, agar dapat melewati keluhan tersebut dengan ikhlas. Ada yang ingin berbagi soal pengalaman mengalami “usus malas” sehingga harus berhari-hari bahkan berminggu-minggu istirahat di RS ?
sumber: Lakshmi Nawasasi http://lakshminawasasi.blogspot.com/2008/01/usus-malas-usus-paralitik-kembung-terus.html

Selasa, 13 Oktober 2009

INFEKSI LUKA OPERASI / ILO / WOUND INFECTION

Infeksi luka operasi dapat terjadi tergantung banyak hal misalnya
  1. Jenis operasi yang dikerjakan. Pada operasi dengan jenis ‘contaminated’ / yang tercemar – terkontaminasi tentu saja resiko infeksi nya jauh lebih besar dibandingkan jenis operasi ‘bersih’. Contoh, operasi usus buntu dengan kondisi usus buntu yang sudah bernanah, sudah pecah tentu resiko infeksi yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan operasi usus buntu dalam kondisi usus buntu yang masih baik
  2. Lokasi target organ yang dioperasi. Operasi yang target organnya berada di rongga perut kemungkinan terjadinya infeksi lebih besar dengan operasi yang dilakukan di luar rongga perut. Operasi pada daerah anus juga berbeda dengan operasi pada daerah tubuh yang lain.
  3. Tehnik operasi yang dilakukan. Pada tehnik operasi yang menghasilkan paparan luas, seperti sayatan tengah rongga perut (sayatan median pada jenis operasi laparatomi eksplorasi) tentu resiko infeksi yang terjadi jauh lebih berat dibandingkan sayatan pada pinggir kanan bawah perut (mis pada kasus hernia / usus buntu). Tehnik operasi dengan laparoskopi akan memberikan resiko infeksi yang kecil karena tidak melibatkan banyak otot-otot dan bagian tubuh lain yang harus ‘dirusak’.
  4. Adanya penyakit lain yang menyertai. Pasien dengan operasi usus , jika ia juga memiliki penyakit lain seperti TBC, DM / kencing manis, malnutrisi dll maka penyakit-penyakit tersebut tentu saja amat sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh sehingga akan mengganggu proses penyembuhan luka operasi. Selain itu, jika ditemukan lebih dari satu penyakit yang harus dilakukan operasi pada saat bersamaan, misalnya selain menjalani operasi angkat batu empedu / kolesistektomi pasien juga menjalani operasi angkat usus buntu yang meradang / apendisitis, maka komplikasi operasi (termasuk infeksi) yang terjadi dapat lebih besar
  5. Keadaan pasien secara umum. Inilah pentingnya pemeriksaan lab dan ronsen sebelum operasi dilakukan. Meskipun demikian pada operasi-operasi yang bersifat emergensi, jika keadaan umum pasien kurang baik (misalnya Hb rendah, demam, nilai-nilai tertentu dari lab yang menurun dari normal), maka operasi tetap dilakukan sambil tetap mengkoreksi keadaan umum yang kurang baik tadi.
  6. Kompetensi / kemampuan Dokter Bedah yang melakukan operasi. Jika memang kasusnya harus dilakukan operasi, pilihlah Dokter Bedah yang telah memiliki kompetensi. Beberapa kasus di daerah, ada seorang dokter umum kedapatan sering melakukan tindakan sesar / membantu persalinan lewat operasi. Meskipun akses sayatan yang dilakukan adalah benar, tentu saja seharusnya hal tersebut tidak dibenarkan, karena masalah kompetensi tetap harus dipertimbangkan. Begitu juga pada kasus yang teramat sub spesialistis, selayaknya seorang ahli Bedah Umum dapat merujuk pasiennya ke Dokter yang lebih ahli seperti Bedah digestif, Bedah Urologi dsb.
  7. Perilaku Pasien, misalnya setelah menjalani operasi wajib KONTROL ke pada dokter Bedahnya. Sewaktu kontrol pasien menerima sejumlah hak, hak untuk dilihat perkembangan luka operasinya, hak mendapat penjelasan mengenai apa saja yang dilakukan untuk membantu memulihkan kesehatannya post operasi, hak mendapat keterangan-keterangan lain berkaitan dengan operasi yang dijalani. Pasien yang “malas “ kontrol karena merasa luka operasi nya sudah sembuh, biasanya akan mengalami komplikasi operasi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pasien-pasien yang setia mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Dokternya. Pasien yang “setia” ‘pada hanya dengan ‘ dokter Bedahnya yang mengoperasi, biasanya akan mengalami komplikasi operasi jauh lebih sedikit dibandingkan pasien lain yang (misalnya) jika mengalami keraguan pada terapi obat yang diberikan, bukan bertanya langsung pada dokter ybs tapi malah mengikuti saran kerabat, teman yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga jalinlah “persahabatan” yang baik dengan Dokter Bedah yang mengoperasi. Jangan sampai mempunyai rasa sungkan, rasa “tidak enak” jika harus bertanya kepada dokter nya untuk sesuatu yang tidak dan ingin diketahui. Ada yang punya pengalaman mendapatkan infeksi pada luka operasi ? atau mendapatkan komplikasi lain setelah pembedahan ? Bisa dan sangat boleh sama-sama berbagi disini.

sumber : Lakshmi Nawasasi http://lakshminawasasi.blogspot.com/2008/01/infeksi-luka-operasi-ilo-wound.html